dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.
Sekarang mata-Ku terbuka dan telinga-Ku menaruh perhatian kepada doa dari tempat ini.
Sekarang telah Kupilih dan Kukuduskan rumah ini, supaya nama-Ku tinggal di situ untuk selama-lamanya, maka mata-Ku dan hati-Ku akan ada di situ sepanjang masa.
( II tawarikh 7:14-16 )

Kamis, 31 Maret 2011

Allah Peduli

Posted on by saatteduh

- Diambil dari Renungan Gereja Kristen Yesus Jemaat Green Ville -

Bacaan Alkitab hari ini: 2 Raja-raja 6
Allah peduli dengan siapa saja yang berharap kepada-Nya. Allah peduli terhadap murid Elisa yang miskin (sehingga untuk sebuah kapak saja dia harus pinjam kepada orang lain). Peristiwa itu menunjukkan kepedulian Allah terhadap diri kita.

Rumah yang ditempati rombongan nabi terlalu sesak dan tidak nyaman untuk hidup bersama (6:1) karena murid Elisa semakin lama semakin banyak. Elisa bersama murid-muridnya pergi mengambil balok dari pohon-pohon di tepi sungai Yordan sebagai bahan dasar untuk bangunan rumah mereka. Ketika seorang murid Elisa sedang menebang sebatang pohon, jatuhlah mata kapaknya ke dalam air. Kemudian Elisa melemparkan sepotong kayu, maka mata kapak itu timbul dan murid itu dapat mengambilnya (6:6-7) serta mengembalikan kapak itu kepada pemiliknya.
Peristiwa mengenai kapak pinjaman yang tenggelam di sungai Yordan (6:1-7) merupakan peristiwa sederhana yang diapit oleh dua peristiwa besar, yaitu peristiwa penyembuhan Naaman, panglima raja Aram yang berpenyakit kusta (pasal 5), dengan peristiwa peperangan Israel melawan bangsa Aram (6:8-23). Mengapa peristiwa sederhana seperti itu dicatat dalam Kitab Suci? Jawabannya adalah karena Allah peduli terhadap orang kecil dan sederhana yang membutuhkan pertolongan-Nya.
Allah mempedulikan Anda. Siapa pun Anda, bila Anda berseru kepada-Nya saat Anda merasa tidak berdaya dan menemui jalan buntu, Allah akan mendengarkan keluh kesah Anda. Anda akan dikuatkan dalam menghadapi pergumulan dan Anda akan menemukan jalan keluar yang tepat pada waktunya sesuai dengan rencana-Nya yang kekal. Berharaplah terus kepada-Nya, maka Anda akan dipuaskan. [Souw]

Roma 8:28
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Rabu, 30 Maret 2011

PERHATIKAN DAN AWASILAH HIDUPMU!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Maret 2011

Baca:  1 Timotius 4:11-16


"Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu.  Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau."  1 Timotius 4:16

Kata awas berarti suatu peringatan agar kita berhati-hati.  Bukankah kita sering menjumpai kata-kata peringatan semacam ini tertulis di mana-mana?  Di jalan raya misalnya:  "Awas ada tikungan;  Awas ada perbaikan jalan;  Awas banyak anak sekolah" dan sebagainya.  Ada pula yang lebih ekstrem lagi,  "Awas ada anjing galak!".  Itu semua berarti kita harus memperhatikan peringatan ini dengan sungguh, sebab bila kita melanggarnya pasti sangat membahayakan diri sendiri dan juga orang lain.

     Firman Tuhan menasihati agar kita mengawasi diri sendiri terlebih dahulu, bukan orang lain.  Memang, pekerjaan yang mudah adalah kita mengawasi, mengamat-amati, menilai, mengoreksi kelemahan serta menghakimi orang lain.  Sebaliknya untuk mengawasi diri sendiri atau bercermin pada diri sendiri tidak semua orang mau melakukannya.  Tetapi rasul Paulus mengingatkan demikian,  "Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri;  maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain."  (Galatia 6:4).

     Berdasarkan ayat nas di atas ada 2 hal yang harus kita awasi:  diri kita sendiri dan juga ajaran yang kita terima.  Apa saja itu?  Paulus berkata,  "Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu."  (1 Timotius 4:12b).  Bagaimana dengan perkataan kita?  Yang kita perkatakan menunjukkan siapa kita.  Kata-kata firman yang membangun, menguatkan dan memberkati orang lain, ataukah kata-kata sia-sia yang terlontar (umpatan, kutuk dan sebagainya).  Bagaimana dengan tingkah laku kita?  Apakah selama ini tingkah laku kita sudah sesuai dengan firman Tuhan atau malah jadi batu sandungan bagi orang lain?  Begitu pula dalam hal kasih, kesetiaan dan juga kesucian.  Kalau kehidupan kita sudah baik dan berkenan kepada Tuhan barulah kita boleh mengawasi orang lain!  Sedangkan hal ajaran berbicara tentang apa pun yang kita terima dan dengar, apakah firman Tuhan atau ajaran-ajaran lain.  Akhir-akhir ini banyak sekali ajaran-ajaran yang menyesatkan.  Bila kita tidak berakar kuat di dalam firman Tuhan, kita akan mudah tersesat. 

Mari kita koreksi hidup kita, supaya hidup kita menjadi teladan!

Selasa, 29 Maret 2011

MENABUR DENGAN SUKACITA, MENUAI YANG BAIK

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Maret 2011

Baca:  2 Korintus 9:6-15
"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita."  2 Korintus 9:7

Setiap orang yang menanam benih pasti berharap pada saatnya ia akan mendapatkan panenan.  Tapi seringkali terjadi kita menanam benih yang baik, tetapi mengapa hasil panen kita menjadi berasa masam?  Ini seperti tertulis:  "Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya?  Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam?"  (Yesaya 5:4).  Jika demikian halnya, adakah yang salah dengan taburan kita?  Mungkin kita berkata,  "Aku sudah banyak menolong orang lain;  aku jadi donatur pembangunan gereja.",  dan lain-lain.  Sedikit motivasi kita saat menanam atau menabur benih tersebut!

     Kalau kita menabur dengan hati yang tidak baik:  bersungut-sungut, sedih hati, terpaksa dan memiliki motivasi yang salah, hasil tuaian kita juga tidak baik.  Sikap hati kita saat menabur adalah penentu bagi benih yang kita taburkan.  Seorang janda miskin memberikan dua peser uangnya ke dalam peti persembahan dan persembahannya itu menyenangkan hati Tuhan.  Memang jumlah benih yang ditabur janda itu sangat sedikit jika dibandingkan dengan persembahan orang kaya, tapi ia memberinya dengan sepenuh hati dan dari seluruh nafkahnya.  Benih yang baik, hati yang baik dan motivasi yang baik akan menghasilkan tuaian yang baik pula.  Banyak orang Kristen yang ingin diberkati melimpah tapi tidak mau menabur dan suka menunda-nunda waktu untuk menabur dengan berkata,  "Penghasilanku pas-pasan, aku belum bisa memberi;  aku belum digerakkan oleh Roh Kudus."  dan sebagainya.  Itu hanyalah alasan bagi orang-orang yang tidak mau menabur atau sengaja menghindarkan diri dari hukum menabur.

     Orang yang malas menabur jangan pernah berharap tuaian!  Apabila kita ingin menanam atau menabur, milikilah hati yang baik.  Setiap kita pasti tidak ingin menuai buah yang masam, bukan?  Penabur benih yang baik pada saatnya akan menuai hasil yang baik pula.

"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya."  Amsal 3:9-10

Sabtu, 26 Maret 2011

Keberuntungan

Diambil dari bacaan e-RH (www.renunganharian.net)

Baca: Yeremia 32:36-44
Ayat Mas: Sebab beginilah firman TUHAN: Seperti Aku mendatangkan kepada bangsa ini segenap malapetaka yang hebat ini, demikianlah Aku mendatangkan ke atas mereka keberuntungan yang Kujanjikan kepada mereka. Yeremia 32:42

Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 7-9

Banyak orang rela membayar mahal untuk mendapat nomor cantik bagi telepon atau plat mobilnya. Nomor cantik disukai karena unik dan mudah diingat, tetapi ada pula yang meyakini nomor itu bisa membawa keberuntungan! Seorang pria di Hongkong rela membayar lebih dari lima ratus juta rupiah untuk membeli plat mobil bernomor CCUE (baca: see see you yee). Dalam bahasa Kanton, kata-kata itu berarti “semua berjalan menurut keinginan seseorang”. Pemiliknya percaya, jika mengendarai mobil berplat nomor itu, keberuntungan menyertainya ke mana pun ia pergi. Alkitab menyaksikan bahwa keberuntungan datang bukan dari nomor, barang, atau situasi tertentu. Tidak ada hari baik atau hari buruk. Waktu kota Yerusalem hancur karena perang, kelaparan, dan penyakit (ayat 36), Tuhan menegaskan semua itu terjadi bukan karena mereka tertimpa nasib sial, melainkan karena Tuhan murka. Umat tidak lagi hidup taat kepada Tuhan (ayat 37). Tuhan berjanji kelak mereka akan diberi hati yang takut akan Tuhan (ayat 40). Jika umat kembali taat, pasti keberuntungan akan datang (ayat 42). Pemulihan terjadi. Tanah tandus akan menjadi ladang subur yang diperebutkan orang (ayat 43,44). Apa yang tadinya merugikan bisa diubah Tuhan jadi menguntungkan! Masihkah Anda percaya bahwa benda tertentu—semisal: roti atau air anggur perjamuan, bisa membawa keberuntungan? Masihkah Anda mencari “hari baik” saat hendak menentukan hari pernikahan? Di dalam Kristus, tidak ada hari yang layak disebut hari buruk atau nasib sial. Jika kita taat pada Tuhan, setiap hari adalah hari keberuntungan!

Keberuntungan ada di tangan Tuhan kita; tersedia bagi mereka yang menggenggam tangan-Nya

Kamis, 24 Maret 2011

SUKA MEMBERI ATAU SUKA MENERIMA?

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Maret 2011

Baca:  2 Korintus 9:6-15

"Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga."  2 Korintus 9:6

Memiliki kasih dan suka memberi adalah karakter yang harus dimiliki oleh setiap orang percaya.  Jika ada orang Kristen yang tidak punya kasih, pelit dan tidak suka memberi berarti belum melakukan kehendak Tuhan, padahal firmanNya jelas menyatakan,  "Berilah dan kamu akan diberi:  suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."  (Lukas 6:38)

     Orang Kristen yang tidak punya kasih dan tidak pernah memberi kepada orang lain tak ada bedanya dengan keberadaan Laut Mati.  Laut Mati adalah danau atau laut yang airnya tidak dapat diminum karena telah terkontaminasi dan berbau busuk. Kandungan garam di Laut Mati sangat tinggi dan bisa dikatakan bahwa Laut Mati adalah salah satu lingkungan yang paling tidak ramah di dunia.  Ikan-ikan tidak dapat bertahan hidup di sana.  Secara geografis Laut Mati dialiri oleh sungai Yordan yang bermuara ke laut ini, namun tidak seperti danau lain, Laut Mati tidak memiliki saluran ke luar;  laut ini hanya terus menampung air sungai sehingga semua air segar yang mengalir ke dalamnhya lambat laun menjadi busuk.

     Itulah gambaran yang tepat mengenai orang yang hidup mementingkan diri sendiri;  orang yang selalu mengharapkan untuk diberi tetapi tidak suka memberi.  Bila kita hanya suka menerima, selalu mengambil tetapi tidak pernah memberi, lama-kelamaan kehidupan kita akan berbau busuk:  masam, egois, tidak menyenangkan dan selalu berpikiran negatif terhadap orang lain.  Itu adalah dampak dari tidak adanya hal yang mengalir keluar dari dirinya.  Dunia berprinsip bahwa untuk menjadi kaya atau cara memperoleh harta adalah dengan menghemat sedemikian rupa dan menerima.  Sedangkan prinsip firman Tuhan adalah kebalikannya.  Di dalam Kerajaan Allah justru orang yang diberkati adalah orang yang menyebar dan menabur hartanya.  Tertulis:  "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan."  (Amsal 11:24) dan  "Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga."  (2 Korintus 9:6).  Tuhan menciptakan kita untuk menjadi seperti sungai yang terus-menerus mengalir.

Janji Tuhan itu unik, ia hanya dapat dipahami apabila dipraktekkan.