dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.
Sekarang mata-Ku terbuka dan telinga-Ku menaruh perhatian kepada doa dari tempat ini.
Sekarang telah Kupilih dan Kukuduskan rumah ini, supaya nama-Ku tinggal di situ untuk selama-lamanya, maka mata-Ku dan hati-Ku akan ada di situ sepanjang masa.
( II tawarikh 7:14-16 )

Jumat, 18 Februari 2011

BAGI TUHAN TAK ADA YANG TAK MUNGKIN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Februari 2011 -

Baca:  Hakim-Hakim 6:1-16

 "Berfirmanlah Tuhan kepadanya (Gideon - Red.):  'Tetapi Akulah yang menyertai engkau, sebab itu engkau akan memukul kalah orang Midian itu sampai habis.' "  Hakim-Hakim 6:16

Suatu ketika bangsa Israel mengalami keterpurukan, selama tujuh tahun mereka dijajah oleh bangsa Midian,  "sehingga orang Israel menjadi sangat melarat oleh perbuatan orang Midian itu."  (ayat 6a).  Mengapa hal ini terjadi?  Bangsa Israel memberontak kepada Tuhan;  mereka melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, itulah sebabnya Tuhan mengijinkan kesesakan terjadi atas bangsa Israel.

     Selalu ada konsekuensi bila kita menyimpang dari jalan-jalan Tuhan.  Begitu perkasanya bangsa Midian sehingga bangsa Israel mengalami ketakutan yang luar biasa, sampai-sampai mereka harus bersembunyi di gua-gua dan kubu-kubu.  Meski demikian, ketika mereka berseru-seru kepada Tuhan, Ia pun tetap mengindahkannya dan memberikan pertolongan.  Lalu Tuhan mengutus malaikatNya untuk memanggil seorang muda yaitu Gideon, yang sedang mengirik gandum dalam tempat pemerasan anggur (karena ia juga sangat ketakutan terhadap bangsa Midian dan Amalek).  Secara manusia Gideon bukanlah orang yang gagah berani.  Ia juga seorang yang penakut dan tidak punya kemampuan yang bisa diandalkan.  Mana mungkin dia bisa memimpin bangsa Israel menghalau bangsa Midian dan juga Amalek?  Impossible!  Perhatikan firman Tuhan,  "Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk Tuhan?"  (Kejadian 18:14a) dan  "...apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,"  (1 Korintus 1:27).

     Bukankah hal sama juga terjadi pada Daud?  Siapa sangka Daud dipilih Tuhan untuk menjadi raja menggantikan Saul?  Gideon juga demikian, ia hanya berasal dari kaum yang paling kecil di antara suku Manasye dan termuda di antara kaum keluarganya.  Bila kita baca kisah Gideon lebih lanjut, terlihat betapa Tuhan memakai Gideon menjadi pahlawan Israel yang gagah perkasa dan sanggup mengalahkan bangsa Midian!  Apa pun keadaan kita saat ini, jangan pernah menyerah!  Tuhan selalu punya jalan keajaiban.  Dia sanggup mengubahkan segala sesuatu, dari keterpurukan menjadi kemenangan.  Dari hopeless menjadi hopeful!

Kita punya Tuhan yang kuasaNya tak terbatas, Dia yang menyertai kita senantiasa.

KERINDUAN DAUD KEPADA TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Februari 2011 -

Baca:  Mazmur 63:1-12

"Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair."  Mazmur 63:2

Mazmur 63 ini adalah ungkapan kerinduan Daud kepada Tuhan ketika ia berada di padang gurun Yehuda.  Apa yang dikatakan Daud ini bukan sekedar lips service atau di bibir doang, tetapi ungkapan ini benar-benar ke luar dari lubuk hatinya yang paling dalam.  Mengapa Daud sampai harus pergi ke padang gurun kalau hanya untuk mengungkapkan kerinduannya kepada Tuhan?  Bukankah ia seorang raja?  Tidak cukupkah ia mengungkapkan isi hatinya itu di dalam istananya yang megah, tanpa harus bersusah payah pergi ke padang gurun?  Bagi Daud, kerinduannya kepada Tuhan tak ternilai harganya, tidak bisa diukur dengan materi atau kemewahan yang ia miliki.  Ia pergi ke padang gurun untuk mengingat-ingat bagaimana Allah menyertai dan memberkati nenek moyangnya saat perjalanan menuju tanah perjanjian.  "Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala."  (Mazmur 77:12).  Daud belajar untuk menjadi orang yang tidak sombong walau ia memiliki kedudukan tertinggi di Israel;  ia sadar bahwa semua itu karena Tuhan.

     Adakah kita memiliki kerinduan hati yang mendalam kepada Tuhan?  Kerinduan Daud kepada Tuhan tidak hanya digambarkan seperti tanah yang tandus dan kering, tetapi dilukiskan pula seperti rusa yang merindukan aliran sungai (baca Mazmur 42:2).  Seekor rusa pasti tidak dapat menahan diri apabila ia sudah haus akan air.  Bahkan rusa-rusa itu tidak peduli terhadap bahaya yang mengancam (mungkin ada binatang buas yang hendak menyerangnya) apabila ia sudah ingin menikmati kesejukan air sungai.  Begitu pula kerinduan hati Daud kepada Tuhan, tidak ada satu pun yang dapat menahan atau menghalangi dia untuk bertemu dengan Tuhan.  Hal ini bukan karena kedudukan dia sebagai raja yang berkuasa, sehingga tak seorang pun bisa menghentikan niatnya, tetapi itu karena kekuatan cintanya yang luar biasa kepada Tuhan.  Marilah kita pun memiliki hati yang rindu, haus dan lapar kepada Tuhan.  Selagi ada kesempatan mari kita kejar hadirat Tuhan!  Tertulis, "Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui;  berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!"  (Yesaya 55:6).

Seberapa dalam rasa rindu kita kepada Tuhan?  Atau perasaan kita 'biasa-biasa' saja kepada Tuhan dan kita lebih mencintai dunia ini daripada mencari Tuhan?

Sabtu, 12 Februari 2011

TUHAN SANGAT MEMBENCI PERCERAIAN


Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Februari 2011 -


Baca:  Maleakhi 2:10-16

"Sebab Aku membenci perceraian, firman Tuhan, Allah Israel - juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman Tuhan semesta alam.  Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!"  Maleakhi 2:16

Perceraian di kalangan para artis atau selebritas adalah hal biasa.  Ada yang menikah hanya dalam hitungan bulan, setelah itu mereka bercerai dengan alasan klise:  merasa tidak cocok satu sama lain!  Bagaimana bisa ya?  Sungguh menyedihkan!

     Tuhan sangat membenci dosa perceraian.  Pernikahan bukanlah suatu hal yang harus kita jalani dengan keadaan terpaksa.  Dalam sebuah hubungan pernikahan, kasih tak bersyarat adalah sebuah keputusan.  Jika kasih Tuhan ada dalam diri kita, kita akan dapat memutuskan untuk membiarkan kasih itu terus mengalir.  Mengapa perceraian dibenci Tuhan?  Karena perceraian merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan yang di dalamnya melibatkan Tuhan.  Ketika dua orang yaitu laki-laki dan perempuan (bukan laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan) dipersatukan dalam sebuah lembaga pernikahan, Tuhan menjadi pihak ketiga dalam perjanjian yang mereka buat.

     Perceraian menyerang dan mempengaruhi benih-benih Ilahi.  Hal terburuk yang mungkin kita lihat dalam kasus perceraian adalah anak-anak yang menjadi korban, padahal Tuhan memiliki rancangan yang indah dalam keluarga-keluarga Kristen.  Jika setiap terjadi konflik dalam rumah tangga kita sering menyerukan kata-kata cerai terhadap pasangan, berhati-hatilah!  Karena kita menabur benih perceraian dalam pernikahan, benih itu akan tumbuh karena Iblis menyuburkannya.  Banyak kasus kenakalan remaja terjadi, dan salah satu penyebabnya dalah karena masalah keluarga (broken home).  Anak-anak memberontak dan mencari kedamaian di luar karena suasana di rumah yang tidak lagi kondusif.  Anak-anak kita adalah hasil dari apa yang terjadi di dalam rumah tangga.  Perceraian yang menimpa orangtua seringkali membuat anak-anak menjadi trauma, sehingga ketika beranjak dewasa timbul ketakutan dan kekuatiran dalam diri mereka untuk menikah.  Takut jika mereka harus mengalami rasa sakit yang sama.

     Pernikahan Kristen adalah pernikahan sekali seumur hidup.  Tidak ada istilah cerai dalam kehidupan kekristenan karena itu adalah kebencian Tuhan!

"Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.  Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."  Matius 19:6

Jumat, 04 Februari 2011

HIDUP KEKRISTENAN ADALAH SEBUAH PROSES

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Februari 2011 -

Baca:  Ibrani 5:11-14 

"Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat."   Ibrani 5:14

Perjalanan hidup seorang Kristen harus mengalami pertumbuhan dari hari ke hari.  Sebagaimana seorang bayi yang dilahirkan bukan sekedar menjadi bayi yang lucu dan imut selama bertahun-tahun, tapi pada saatnya ia akan berkembang menjadi anak yang sehat dan cerdas, masuk ke jenjang pendidikan dan akhirnya menjadi seorang dewasa yang mandiri.

     Pula sebagai orang Kristen kita tidak hanya berhenti sebatas percaya kepada Kristus saja.  Kita harus mengalami kelahiran baru, lalu terus berproses hingga menjadi seorang Kristen yang dewasa secara rohani.  Itulah kehendak Tuhan bagi kita.  Rasul Petrus menasihatkan,  "...bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus."  (2 Petrus 3:18a), agar supaya  "...kamu berdiri teguh, sebagai orang-orang yang dewasa dan berkeyakinan penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah."  (Kolose 4:12).  Apa yang dimaksud dengan dewasa rohani?  Dewasa rohani berarti menjadi serupa dengan Kristus dalam hal karakter.  Jadi setiap orang percaya harus memiliki perubahan hidup, salah satunya dalam hal karakter, yang semakin menyerupai karakter Kristus.  Sudahkah karakter Kristus ada dan menjadi bagian dalam hidup kita sehari-hari?  Memiliki buah-buah Roh adalah tanda bahwa seseorang memiliki karakter Kristus:  "...kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri."  (Galatia 5:22-23a).

     Dewasa rohani juga berarti mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan dan mau melakukan ketaatan.  Kita bukan hanya sekedar mahir dan paham akan isi Alkitab, namun perbuatan dan tindakan kita juga harus benar-benar selaras dengan firman tersebut.  Perlu kita ketahui bahwa kedewasaan rohani itu tidak terjadi secara otomatis, tetapi merupakan suatu proses dan butuh kedisiplinan dari kita.  Oleh karena itu  "Latihlah dirimu beribadah.  Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang."  (1 Timotius 4:7b-8).  Jangan sekali-kali menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah karena kedewasaan rohani tidak terjadi secara instan!

Mempelai Kristus adalah orang-orang Kristen yang dewasa.

Selasa, 01 Februari 2011

Hidup Yang Memiliki Pikiran Allah

 Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem  dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus  menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau”. Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” ” Matius 16 : 21-23
Petrus dapat memberikan jawaban yang benar atas pertanyaan Yesus kepada murid-muridNya mengenai siapakah diriNya, pada perikop sebelumnya dalam pasal yang sama. Roh Kuduslah yang memimpin pikiran Petrus dan berbicara kepada Petrus, sehingga kita dapat melihat bagaimana Yesus memberikan pujian atas jawaban Petrus, dalam Matius 16:17, “Kata Yesus kepadanya: berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang disorga”.
Namun dalam ayat 23, kita melihat bagaimana  Yesus  menegur  Petrus dengan sangat keras. Yesus menghardik, “Enyahlah iblis”.  Yesus di sini bukan mengusir Petrus tapi mengusir iblis yang telah meracuni pikiran Petrus. Petrus melakukan suatu kesalahan besar,  Petrus  membiarkan pikirannya dikuasai oleh iblis sehingga ia cenderung memikirkan hal-hal yang duniawi,  Petrus tidak memikirkan apa yang Allah pikirkan. Iblis sangat ingin menggagalkan rencana Allah.
Kalau kita lihat sekilas mengenai  latar belakang dari pemberitaan Yesus kepada murid-muridNya tentang penderitaan yang harus Dia alami, dalam ayat 21 di atas, adalah suatu misi yang harus dijalani oleh Yesus. Kitab Yesaya  juga sudah menubuatkan tentang hal itu, dalam Yesaya 53:5, “Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita… ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadaNya”. Yesus harus  memikul penderitaan karena kita, dengan sabar dan sukarela, supaya kita diselamatkan.  Andai saja Petrus menyadari hal ini, tentu ia tidak akan mengatakan kepada Yesus, seperti dalam ayat 22 di atas “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau”.  Seharusnya Petrus memberikan kekuatan kepada Yesus.  Petrus dengan berani menyatakan hal tersebut, karena ia membiarkan iblis bekerja menguasai pikirannya, ia hanya memikirkan penderitaan yang akan Yesus terima.
Seringkali  tanpa kita sadari kita telah melakukan  kesalahan  seperti yang dilakukan Petrus. Apa yang kita pikirkan setiap saat dalam kehidupan kita, tidak  seperti yang Allah pikirkan. Kita lebih banyak cenderung memikirkan  perkara-perkara duniawi saja. Kita kurang memikirkan perkara-perkara rohani, hal-hal yang sorgawi. Itulah sebabnya banyak orang yang hidup dalam tekanan, kebimbangan, kegelisahan dan putus asa, karena diperdaya oleh pikiran duniawi  saja. Berbagai situasi kehidupan yang kita hadapi sehari-hari tidaklah selalu menyenangkan seperti yang kita harapkan.  Keadaan yang demikian itu memang  cenderung mempengaruhi pikiran kita, akan banyak pertanyaan yang muncul ketika kita sedang berhadapan dengan masalah yang  sedang terjadi. Banyak orang memilih lebih baik lelah bekerja daripada lelah berpikir.  Mengapa ?  Karena kalau lelah bekerja bisa beristirahat,  sedangkan lelah berpikir dapat membuat tubuh kita juga menjadi lelah dan bahkan sampai sakit.
Kita boleh saja memikirkan masalah yang sedang kita hadapi, memikirkan  hal-hal yang duniawi,  tetapi kita harus bertindak hati-hati, sebab kalau  tidak  maka iblis dapat mengambil kesempatan atasnya, meracuni pikiran kita, membuat kita tiada berdaya, merasa telah gagal, membawa kita pada kekecewaan, sakit hati, kebencian dan sebagainya.  Ingatlah bahwa pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan (Yoh 10:10a). Pencuri itu ialah iblis,  suka menimbulkan kebimbangan penggenapan janji-janji Allah dalam hidup kita dengan maksud supaya kita gagal dan putus asa.
Apakah yang Allah kehendaki dari kita? Allah mau supaya kita juga memikirkan apa yang dipikirkan Allah, dalam ayat 23. Berpikirlah seperti Allah. “Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi” (Kol. 3:2) Kita harus memikirkan perkara yang di atas  dengan membiarkan seluruh sikap dan pikiran kita ditentukan olehNya. Dalam segala hal, kita harus mempertimbangkan  dan menilai serta memikirkan segala sesuatu  itu dari sudut pandang Allah, yaitu Firman Allah.
Allah selalu berpikir tentang yang baik dalam hidup kita terlepas dari keadaan kita, apapun adanya kita, DIA selalu mengasihi dan memperhatikan kita.  Allah merancangkan damai sejahtera, bukan kecelakaan, bahkan memberikan hari depan yang penuh harapan kepada kita. Jangan biarkan iblis merusaknya. Sebab kalau kita ijinkan iblis menguasai pikiran kita, maka kita sering dituduh dan diintimidasi oleh iblis, sehingga kita cenderung memikirkan yang buruk atas hidup kita, membuat kita tidak percaya pada Firman Tuhan.
.
Apakah yang harus kita lakukan agar kita dapat menjalani hidup yang memiliki pikiran Allah?

1. Melawan Iblis

Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” 1 Pet 5:9
Setiap orang harus berperang melawan iblis. Pikiran adalah medan peperangan. Kita tahu bahwa ketika umat manusia jatuh ke dalam dosa, iblis menjadi penguasa dunia ini, ia meronda di bumi mencari manusia untuk diperbudak. Waspadalah terhadap pikiran kita, kalau terdapat hal-hal yang buruk, jelek, negatif, sengsara dan sebagainya. Kita harus bertindak seperti  Yesus lakukan, menghardiknya dan katakan “Enyahlah iblis dari pikiranku, sebab aku percaya pada Firman Allah, Allah memberikan yang terbaik bagiku!“. Jangan biarkan hal-hal yang buruk menguasai pikiran kita.
Sebagai salah satu contoh dalam Alkitab kita lihat  bagaimana Ayub hidup dalam kegelisahan,  ia tidak memdapatkan ketenangan dan ketentraman dalam hidupnya.
Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan , itulah yang mendatangi aku. Aku tidak mendapat ketenangan dan ketentraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.” Ayb 3: 25-26
Kalau berpikir yang buruk, akan datang yang buruk, sebaliknya kalau kita berpikir yang baik (Firman Allah), maka kebaikan akan terjadi atas kita. Jangan beri tempat bagi iblis, lawanlah iblis dengan iman,  maka ia akan lari.
.

2. Menawan Pikiran

Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.” 2 Kor 10:5b
Kita sebagai orang  percaya  harus setiap saat menyesuaikan segala pikiran kita dengan kehendak Allah.  Bawalah seluruh pikiran kita kepada Allah, dan taklukkan di bawah kuasa FirmanNya.  Allah mengetahui seluruh pikiran kita, sebab tidak ada yang tersembunyi  bagi Allah.
Berhati-hatilah selalu akan apa yang dilihat oleh mata, dan apa yang didengar oleh telinga. Berani mengatakan tidak pada iblis, tidak pada dosa. Tolaklah dengan jelas segala sesuatu yang  tidak mendatangkan kebaikan. Serahkanlah pikiran kita pada Allah. Sekalipun masalah itu berat, percayalah Tuhan akan memberikan kelegaan.
.

3. Menyukai Firman Allah

Tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” Maz. 1:2
Manusia akan  selalu mencari apa yang mereka sukai. Sebagai umat Tuhan, jadikanlah Firman Allah menjadi kesukaan kita. Baca dan renungkanlah Firman Allah secara teratur. Kita harus membangun hidup kita dalam Firman Allah supaya kita menjadi kuat atas segala goncangan, dan masalah. Bila Firman Allah menjadi kesukaan kita serta merenungkannya siang dan  malam, maka Firman Allah itu akan membentuk pikiran kita, pikiran kita senantiasa selalu diperbaharui dibawa kepada pikiran-pikiran Allah. Biarkan Allah yang menuntun pikiran kita kepada  FirmanNya,  sampai kita melihat bagaimana campur tangan Allah atas hidup kita sungguh nyata.
Apakah yang saudara pikirkan saat ini ?  Adakah beban yang sangat berat ? Boleh-boleh saja kita memikirkan masalah kita,  tentang masa depan, kita sedang dalam pergumulan, dalam kekecewaan, dalam kemarahan, dalam kegagalan, penyesalan, putus asa atau tertekan/tertindas ? Jangan jadikan  masalah mengisi pikiran kita, sehingga kita tenggelam dalam masalah kita, membuat kita tidak berdaya atas masalah/pergumulan. Dalam keadaan ini iblis suka membawa kita pada tindakan yang buruk atau yang merugikan diri sendiri. Pikiran duniawi  mengarah kepada kebinasaan, tetapi pikiran rohani itu datangnya dari Allah dan menuntun kita kepada hidup yang berkemenangan.  Kita ada seperti yang kita pikirkan tentang kita. Sekalipun keadaannya  tidak baik, tetapi kita harus berpikir tentang yang baik.
Seperti Mazmur Daud berkata dalam pasal 119 ayat 71 “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapanMu”. Jadikanlah setiap masalah itu untuk belajar tentang Firman Tuhan, karena setiap masalah mempunyai  jawaban dalam Firman Tuhan. Relakan FirmanNya membentuk pikiran saudara.  Biarlah damai sejahtera Allah memelihara hati dan pikiran saudara dalam Kristus Yesus. Tuhan memberkati saudara sekalian.
.
Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.” Wahyu 1:3